Sabtu, 16 Agustus 2014

KESULITAN HIDUP ASMA BINTI ABU BAKAR R.A

Asma r,a adalah putri Abu Bakar r.a dan ibu Abdullah bin Zubair r.a., juga saudara perempuan Aisyah r.a Asma r.a telah memeluk islam ketika islam berkembang. Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa Asma r.a adalah orang yang ketujuh belas memeluk islam, dia lahir 27 tahun sebelum hijra. Ketika Rosulullah saw. dan Abu Bakar r.a. hijrah ke Madinah. Sesampainya disana. Abu Bakar r.a. telah memerintakan Zaid r.a. dan beberapa pengwalnya agar pergi ke Mekkah untuk engambil kudanya dan menjemput kelurganya agar dibawah ke Madinah. Dalam rombongan itulah Asma r.a. yang sedang hamil, ikut berhijrah. Setibanya di Quba, lahirlah dari rahim Asma r.a. putranya yang pertama, yaitu Abdulah bin Zubair r.a. Dalam sejara isalam, itulah bayi yang pertama kali lahir setelah hijrah. Pada masa itu, banyak terjadi kesulitan, kesushaan, kemiskinan dan kelaparan. Tetapi pada masa itu pula, timbul kehebatan dan keberanian yang luar biasa.

Dalam sebuah hadist yng diriwayatkan oleh Bukhari rah.a/, disebutkan  bahwa Asma r.a. bercerita ,"Ketika saya menikah dengan Zubair r.a. dia tidak memiliki harta apapun.  Tidak  mempunyai  tanah, tidak ada pembantu untuk meringankan pekerjaan, juga tidak memiliki sesuatu pun.  Saya hanya memiliki seekor untu yang digunakan untuk membawa air dan membawa rumput.  Selaian itu saya juga memiliki seekor kuda dan  saya sendirilah yang menumhuk korma untuk makanan hewan-hewan tadi.  Saya mengisi tempat air sendiri, apabila embernya pecah, maka saya dendirilah yang memperbaikinya.Selaian itu saya sendirilah yang merawat kuda, mencarikan rumput dan memberinya makan.  Saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seerang diri.  Dari semua pekerjaan itu, yang paling sulit adalah memberi makan kuda.

Karena saya kurang pandai membuat roti, maka biasanya saya hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian saya bawa kepada seerang wanita Ansor untuk dimasaknya.  Dia adalah wanita yang sangat ikhlas, dan dialah yang memasakkan roti untuk saya.  "

Ketika Rasullullah s.a.w hijrah ke Madinah, maka beliau telah menghadiakan sebidang tanah pada Zubair r.a. yang letaknya kurang lebih 2 mil dari Madinah.  Lalu kami menanam pohon-pohon kurma di atas tanah itu.  Pada suatu hari, saya sedang berjalan di kebun sambil membawa kurma yang saya letakkan diatas kepala saya.  Tiba-tiba saya berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. dan beberapa sahabat Ansor,yang sedang menunggang unta.  Rasulullah s.a.w menghentikan untah setelah melihat saya.  Kemudia beliau mengisaratkan saya agar menaiki unta beliau.  Saya merasa sangat malu dengan kaum lelaki lainnya.  Selain itu, saya merasa sangat khawatir karena suami saya Zubair r.a sangat pencemburu, dan saya khawatir dia akan marah.   Rasullullah s.a.w memahami perasaan saya, hingga akhirnya beliau meninggalkan saya sendiri."

"Kemudia, saya segerah  pulang ke rumah.  Sampai di rumah saya menyampaikan kejadian tadi pada suami saya, Zubair r.a., bahwa  saya khawatir dia akan cemburu dan marah kepada saya.  Zubair r.a. berkata,"demi Allah, saya lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa kurma-kurma diatas kepalamu sedangkan saya tidak dapat membantumu.  "Sebenarnya keadaan ini darurat, karena para sahabat sibuk dengan berjihad, maka pekerjaan rumahtangga terpaksa dikerjakan oleh istri-istri mereka.

Setelah itu ayah saya, Abu bakar r.a. memberi saya seorang hamba sahaya yang dihadiakan oleh Rasulullah s.a.w..  Dengan adanya pembantu di rumah kami, maka pekerjaan rumah menjadi ringan, seolah-olah saya terbebas dari penjara. 

Memang sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab dari dulu sampai sekarang, untuk memberi makan unta dan kuda, biasanya mereka menumbuk kurma, kemudian dicampur dengan air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar