Jumat, 15 Agustus 2014

RASA TAKUT HANZALA R.A TERHADAP SIPAT MUNAFIK

   Bercerita Hanzhala r.a. "Pada suatu hari kami menghadiri majelis Rasulullah saw. Belia menasehati kami, dan nasihat itu membuat  hati kami jadi lembut hingga menangis bercucuran air mata, seolah-olah kami sedang melihat sorga dan neraka seperti yang dikisahkannya oleh beliau.  Pulang dari dari majelis Rasulullah saw., aku pulang ke rumah bertemu dengan anak dan istriku. Lalu bercanda dengan anak-anak dan bercumbu dengan istriku. Kemudian topik pembicaraan kami pun mulai masalah dunia. Suasana di rumah berubah berbeda dengan suasana di Majelis Rasulullah saw. Jika tadi saya ada rasa takut di hati tapi sekarang ada rasa gembira.  Tiba-tiba aku berkata dalam hati,"Hanzhala engkau kini telah jadi munafik. Nyatanya, keadaanmu ketika berada di hadapan Rasulullah saw. jauh berbeda dengan keaadaan sekarang ketika kamu berada di rumah."

       Aku merasa sangat sedih dan kecewa dengan keaadaan ku sendiri.  Aku pun keluar rumah sambil berkata,"Hanzhala telah menjadi munafik."  Dan ketika bertemu dengan Abu Bakar akupun tetap berkata demikian.  Abu Bakar berkata,"Subhanallah! Apa yang telah kau katakan? Sekali-kali Hanzhala bukanlah seorang yang munafik."

       Aku berkata,"Ketika kita dengar wejangan Rasulullah saw. tadi, aku merasa surga dan neraka benar-benar di depan kita, Tapi ketika pulang bertemu dengan keluarga, kita lupakan kampung akhirat,"Abu Bakar ra. berkata, "Ya, keadaan aku pun juga demikian." Kemudian kami berdua menemui Rasulullah saw.

      Aku berkata,"Ya Rasulullah, aku telah menjadi orang munafik."
       Nabi saw bertanya,"Apa yang telah terjadi?"
      Aku berkata,"Ya Rasulullah ketika kami sedang berada di majelis mu dan engkau bercerita tentang surga dan neraka pada kami, kami merasa takut.  Tapi jika kami kembali ke rumah dan menjumpai anak  istri kami, bermain dan bercanda bersama mereka kami lupakan surga dan neraka."

      Mendengar keteranganku itu, Nabi saw. bersabda,"Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika setiap saat kaeadaanmu seperti waktu berada di dekatku, niscaya mara malaikat akan turun ucapkan salam kepadamu di tempat tidurmu dan ketika kamu sedang berjalan.  Tetapi wahai Hanzhala, keadaan seperti ini jarang terjadi."

HIKMAH:
       Menurut Nabi saw. meski bagaimanapun teguhnya iman seseorang, dia tak dapat mencurahkan seluruh perhtinnya kepada akhirat melulu, karena sebagai seorang manusia dia juga harus memperhatikan keperluan hidupnya seperti makan, minum, anak, dan istri.  Walaupun ada manusia yang setiap saat selalu ingat kampung akhirat.  Tapi jumlahnya sangat sedikit.
   
      Namun yang perlu kita perhatikan adalah sikap para sahabat dalam hal memikirkan agama.  Sedikit saja bergeser dari apa yang dinasihatkan Rasulullah saw. mereka merasa bahwa dirinya telah menjadi munafik.  Dikatakan bila kita mencintai sesuatu maka kita akan selalu memikirkan nya. Contoh, bila kita cinta anak kita, dan dia sedang berpergian maka kita akan selalu menanyakannya dan berfikir tentang dia.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar